Nak Kelas awq

Nak Kelas awq
Perpisahan & Perjumpaan

Senin, 29 November 2010

Jangan Haramkan Dia Bersekolah,,



            Kisah yang satu ini akan menunjukkan kepada kita betapa pentingnya menuntut ilmu untuk modal kita dikemudian hari..
            Kisah pun dimulai.
            Disebuah kampung hidup dua keluarga yang sama-sama memiliki 4 orang anak yang usianya hampir sebaya. Namun yang membedakan kedua keluarga ini adalah kehidupan sosial ekonomi mereka.
            Keluarga pertama adalah keluarga Pak Joni. Keluarga ini jauh dari kenyamanan dan kemapanan. Mereka tinggal disebuah pondok yang dindingnya terbuat dari bambu dan beratapkan seng yang setiap turun hujan akan bocor disetiap sudut rumah mereka. Pak Joni bekerja sebagai petani. Namun karena tidak memiliki lahan, Pak Joni mengolah tanah kosong yang tidak digarap pemiliknya.
            Jauh berbeda dengan keluarga Pak Joni. Keluarga Pak Joko sebaliknya. Pak Joko memiliki rumah megah, tanah, kebun teh, serta kebun sawit yang luas. Hasil dari kebun teh dan sawit serta tanaman lainnya membuat mereka menjadi keluarga terkaya dikampung mereka saat itu.
            Selain berbeda dalam segi sosial ekonomi, kedua keluarga ini juga berbeda dalam hal pendidikan. Keluarga Pak Joni mewajibkan anak-anaknya mengaji selepas Magrib hingga shalat Isya tiba. Secara bergantian Pak Joni dan istrinya mengajari keempat anak mereka. Setelah sholat Isya dan sholat subuh anak-anak akan diminta mengulang pelajaran sekolah mereka. Dengan disiplin yang ketat, tak heran keempat anak Pak Joni menjadi langganan juara setiap pembagian rapor di kelas mereka.
            Walau miskin, kepada anak-anaknya Pak Joni selalu mengatakan, “kita boleh miskin harta tapi tidak boleh miskin ilmu. Karena kalau nanti hanya punya harta kita akan sibuk menjaga harta itu. Tapi kalau kita punya ilmu, ilmulah yang menjaga kehidupan kita”. Maka walau harus berulangkali memenuhi panggilan sekolah karena empat anaknya terlambat membayar SPP, Pak Joni tetap memotivasi anak-anaknya agar terus bersekolah.
            Di sisi lain, Pak Joko membiarkan anak-anaknya tumbuh dan berkembang sendiri-sendiri. Berbagai fasilitas untuk meningkatkan gengsi diberikan Pak Joko pada anak-anaknya. Dari mulai busana, perhiasan, sepeda motor dan semua yang menimbulkan kesan gemerlap dimiliki oleh keempat anak Pak Joko.
            Setelah dua puluh tahun. Anak pertama Pak Joni sekarang menjadi kepala sekolah. Anak kedua beliau menjadi seorang konsultan sekaligus dosen disalah satu perguruan tinggi di Pulau Jawa. Putri ketiganya menjadi seorang guru da’i wanita. Dan anak yang keempat kini menjadi pegawai Departemen Agama. Sedangkan Pak Joko sendiri menjadi tokoh masyarakat dan suri tauladan di kampungnya.
            Sementara anak-anak Pak Joko tak ada satupun dari mereka yang “berhasil”. Dua putranya hanya lulus sekolah dasar dan dua putrinya hanya mampu menyelesaikan hingga sekolah menengah pertama. Dua putrinya menjadi janda dan hidupnya terlunta-lunta. Sedang kedua putranya saat ini mendekam dipenjara. Ironisnya, tanah dan kebuh Pak Joko juga telah berpindah tangan ke orang lain.
            Dari kisah dua keluarga diatas, kita dapat ambil pelajaran bahwa sesulit dan seberat apapun, kita harus tetap mengutamakan sekolah. Dengan terus belajar pasti kehidupan kita akan berubah. Satu lagi yang ingin disampaikan Pak Joko setelah nasibnya berubah “Nasib kelaurga kami berubah karena sekolah, orang miskin akan bertambah miskin bila ia berhenti sekolah, bagaimana orang miskin akan berkurang kalau untuk sekolah saja mereka sudah tak bisa.” Maka jika ingin mengentaskan kemiskinan dan mengubah nasib orang miskin jangan haramkan dia bersekolah.

Pilih Mana Ya??? Kerang Mutiara atau Kerang Rebus??,,



            Cerita yang akan dituliskan diadalah bagaimana proses terjadinya mutiara. Baik kita mulai. Waktu kerang muda mencari makan atau bergerak untuk pindah ia akan membuka cangkang penutup badannya. Buka,, tutup,, buka,,, tutup,, begitu seterusnya. Suatu saat  saat cangkaknya terbuka, sebutir pasir masuk kedalam cangkang kerang itu. Sang kerang pun menangis dan memanggil-manggil ibunya “bu sakit bu,,,, ada pasir masuk kedalam tubuhku.”
            Sang ibu menjawab, sabar ya, nak, jangan pedulikan sakit itu, bila perlu beri kebaikan pada sang pasir yang telah menyakitimu itu. Kerang muda itupun menuturi nasihat ibunya. Ia menangis, tapi air matanya ia gunakan untuk membungkus pasir yang masuk kedalam tubuhnya itu. Hal ini terus ia lakukan. Dengan balunan air mata itu, rasa sakitnya pun berangsur berkurang dan bahkan lama kelamaan hilang sama sekali.
            Bebepa saat kemudian, kerang-kerang itu dipanen. Kerang yang ada pasirnya dipisahkan dari kerang yang tidak ada pasirnya. Kerang yang tak berpasir dijual obral dipinggir jalan sebagai “kerang rebus”. Sedangkan kerang yang berpasir dijual ratusan harganyan bahkan ribuan kali lipat lebih mahal dari kerang yang tidak berpasir. Mengapa bisa mahal?? Karena pasir yang yang ada didalam kerang itu berubah menjadi mutiara. Ya butiran pasir itu telah dibalut dengan lapisan air mata hingga menjadi mutiara.
            Dari cerita itu kita ambil pelajaran, bahwa jika kita tidak pernah mendapat cobaan maka kita akan seperti kerang rebus atau kerang yang tak ada harganya. Tetapi kalau kita mampu menghadapi cobaan, bahkan mampu member manfaat pada orang lain pada saat kita mendapat cobaan kita akan menjadi seperti mutiara.
SEKARANG TENRGANTUNG KITA,, MAU PILIH YANG MANA,, OK

Hiu-Hiu Kecil, Siapa Takut?????



            Seseorang bercerita pada saya tentang pentingnya mengundang hiu-hiu kecil dalam kehidupan kita, ia menceritakan sebuah analog yang sangat menarik. Sehingga saya pun sangat  serius mendengarkannya, ceritanya begini : bahwa tenyata orang-orang Jepang sangat menyukai makanan mentah terutama ikan mentah yang segar, namun Negara  Jepang memilki perairan yang terbatas sehingga tidak memilki persediaan ikan yang cukup memenuhi kebutuhan bangsanya. Para nelayan Jepang harus mengarungi lautan luas dan menempuh parjalanan yang jauh. Agar ikan tetap segar, para nelayan mendisain kapal dengan ukuran besar, makin jauh mereka mencari tentu makin jauh pula jarak mereka pulang ke daratan.
            Dengan begitu, tentu ikan hasil tangkapan nelayan sudah tidak segar lagi. Bahkan sebagian aroma ikan sudah tidak sedap dan mempengaruhi selera makan pembelinya. Orang-orang Jepang tentu mengetahui hal itu dan tidak akan mau mengkomsumsi ikan yang tidak segar lagi. Maka harga ikan hasil tangkapan pun jatuh. Dan nelayan tentu mengalami kerugian. Namun mereka para nelayan tidak kehilangan akal. Mereka menaruh lemari pendingin dikapal mereka. sehingga jika mendapat ikan langsung mereka masukkan kelemari pendingin untuk menurunkan resiko ikan membusuk. Namun tetap saja para penggemar ikan Jepang ternyata dapat membedakan mana ikan yang masih segar dan mana ikan beku. Mereka tidak senang dengan ikan yang dibekukan. Maka harga jual ikanpun tetap menurun.
            Nelayan Jepangpun tetap memutar otak agar tidak rugi. Lalu mereka menaruh tangki besar didalam kapal. Setiap ada ikan hasil tangkapan maka dimasukkan ke tangki besar tersebut. Dengan begini kesegaran ikan akan tetap terjaga. Namun dugaan nelayan meleset, ternyata ikan yang ada didalam tangki itu tidak mampu bergerak lincah sebagaimana geraknya dilaut lepas. Dan ternyata berkurangnya gerakan ikan mempengaruhi kesegarannya. Kembali penggemar ikan tidak menyukai ikan yang fisiknya tidak segar.
            Akhirnya para nelayan memasukkan ikan hiu-hiu kecil kedalam tangki mereka, tentu ikan hiu kecil ini dapat memakan beberapa ikan didalam tangki, namun karena itulah terjadi kepanikan ikan-ikan di dalamnya yang menyebabkan mereka akan bergerak lincah menghindari seragan hiu tersebut. Dengan begitu tentu ikan hasil tangkapan nelayan tetap segar sampai ke pelabuhan. Dan para penggemar ikanpun tentu senang dengan ikan-ikan yang segar.
            Ternyata jika kita ingin agar hidup kita bergerak lincah, kita harus berani mengundang hiu-hiu kecil didalamnya. Memang sebagian besar orang menghindari hal itu, namun cobalah anda lakukan percobaan sederhana terhadap teman anda yang mengatakan saya tidak bisa berlari, badan saya gemuk, dan kaki saya sakit. Sekarang tempatkan dia pada lorong sempit dan dibelakang mereka kita lepaskan beberapa anjing galak. Apakah mereka tetap akan mengatakan kalau mereka tidak dapat berlari? Tentu mereka akan lari terbirit-birit.
            Ia menambahkan contohnya pada sebuah tanyangan televisi, ditayangan itu ditampilkan seorang guru yang mengajari anak didiknya berenang. Untuk menigkatkan prestasi muridnya, maka ia mengiming-imingi hadiah yang besar. Namun tak mampu meningkatkan motivasi mereka. Akhirnya ia punya ide yang aneh. Setiap muridnya berenang 2-3 detik kemudian akan dilepaskan buaya-buaya kecil dibelakangnya. Lalu sang guru berkata “buaya ini akan mengejar setiap yang bergerak di air, jadi berenanglah sekuat tenaga agar tidak digigit oleh buaya ini”. Hasilnya semua anak didiknya memecahkan rekor mereka.
            Jadi beranilah mengundang hiu-hiu kecil dalam kehidupan kita mulai sekarang, maka hidup akan menjadi lebih hidup dan penuh dengan gairah,, BELIEVE OR NOT, Buktikanlah.