Kisah yang satu ini akan menunjukkan kepada kita betapa pentingnya menuntut ilmu untuk modal kita dikemudian hari..
Kisah pun dimulai.
Disebuah kampung hidup dua keluarga yang sama-sama memiliki 4 orang anak yang usianya hampir sebaya. Namun yang membedakan kedua keluarga ini adalah kehidupan sosial ekonomi mereka.
Keluarga pertama adalah keluarga Pak Joni. Keluarga ini jauh dari kenyamanan dan kemapanan. Mereka tinggal disebuah pondok yang dindingnya terbuat dari bambu dan beratapkan seng yang setiap turun hujan akan bocor disetiap sudut rumah mereka. Pak Joni bekerja sebagai petani. Namun karena tidak memiliki lahan, Pak Joni mengolah tanah kosong yang tidak digarap pemiliknya.
Jauh berbeda dengan keluarga Pak Joni. Keluarga Pak Joko sebaliknya. Pak Joko memiliki rumah megah, tanah, kebun teh, serta kebun sawit yang luas. Hasil dari kebun teh dan sawit serta tanaman lainnya membuat mereka menjadi keluarga terkaya dikampung mereka saat itu.
Selain berbeda dalam segi sosial ekonomi, kedua keluarga ini juga berbeda dalam hal pendidikan. Keluarga Pak Joni mewajibkan anak-anaknya mengaji selepas Magrib hingga shalat Isya tiba. Secara bergantian Pak Joni dan istrinya mengajari keempat anak mereka. Setelah sholat Isya dan sholat subuh anak-anak akan diminta mengulang pelajaran sekolah mereka. Dengan disiplin yang ketat, tak heran keempat anak Pak Joni menjadi langganan juara setiap pembagian rapor di kelas mereka.
Walau miskin, kepada anak-anaknya Pak Joni selalu mengatakan, “kita boleh miskin harta tapi tidak boleh miskin ilmu. Karena kalau nanti hanya punya harta kita akan sibuk menjaga harta itu. Tapi kalau kita punya ilmu, ilmulah yang menjaga kehidupan kita”. Maka walau harus berulangkali memenuhi panggilan sekolah karena empat anaknya terlambat membayar SPP, Pak Joni tetap memotivasi anak-anaknya agar terus bersekolah.
Di sisi lain, Pak Joko membiarkan anak-anaknya tumbuh dan berkembang sendiri-sendiri. Berbagai fasilitas untuk meningkatkan gengsi diberikan Pak Joko pada anak-anaknya. Dari mulai busana, perhiasan, sepeda motor dan semua yang menimbulkan kesan gemerlap dimiliki oleh keempat anak Pak Joko.
Setelah dua puluh tahun. Anak pertama Pak Joni sekarang menjadi kepala sekolah. Anak kedua beliau menjadi seorang konsultan sekaligus dosen disalah satu perguruan tinggi di Pulau Jawa. Putri ketiganya menjadi seorang guru da’i wanita. Dan anak yang keempat kini menjadi pegawai Departemen Agama. Sedangkan Pak Joko sendiri menjadi tokoh masyarakat dan suri tauladan di kampungnya.
Sementara anak-anak Pak Joko tak ada satupun dari mereka yang “berhasil”. Dua putranya hanya lulus sekolah dasar dan dua putrinya hanya mampu menyelesaikan hingga sekolah menengah pertama. Dua putrinya menjadi janda dan hidupnya terlunta-lunta. Sedang kedua putranya saat ini mendekam dipenjara. Ironisnya, tanah dan kebuh Pak Joko juga telah berpindah tangan ke orang lain.
Dari kisah dua keluarga diatas, kita dapat ambil pelajaran bahwa sesulit dan seberat apapun, kita harus tetap mengutamakan sekolah. Dengan terus belajar pasti kehidupan kita akan berubah. Satu lagi yang ingin disampaikan Pak Joko setelah nasibnya berubah “Nasib kelaurga kami berubah karena sekolah, orang miskin akan bertambah miskin bila ia berhenti sekolah, bagaimana orang miskin akan berkurang kalau untuk sekolah saja mereka sudah tak bisa.” Maka jika ingin mengentaskan kemiskinan dan mengubah nasib orang miskin jangan haramkan dia bersekolah.

